Tuesday, September 20, 2011

BURGERKIL



  • Genre: Death Metal / Hardcore / Metal
    Location Ujung Bronx City Of SinsIndonesia
    Profile Views: 830463
    Last Login: 5/8/2011
    Member Since 10/12/2005
    Record Label Revolt Music Entertainment
    Type of Label Indie
  • Bio

    Originating from Bandung, West Java, Burgerkill were formed in 1995 and have been continually shaping the underground metal scene in Indonesia ever since. For 14 years Burgerkill have consistently been in the spotlight as a force to be reckoned with in Indonesian metal, from writing compositions for movie soundtracks to the successful publication of autobiographic novels. Their first album, 'Dua Sisi', demonstrates the band's beginnings as a leaning towards a predominantly 'Hardcore Metal' and was well received within the underground metal community. With their second album 'Berkarat' and their most recent 'Beyond Coma and Despair' Burgerkill have found their foot-hole and developed a style of their own. Burgerkill set the standard for live metal performances in Indonesia, and have always been a clear cut above the rest. What you hear on the album is what you get live - no disappointments. Their style and level of performance are incomparable to anything previously seen or heard in Indonesia. Burgerkill have become veterans of the metal stage as they are regularly supporting International metal acts touring Indonesia such as The Black Dahlia Murder, As I Lay Dying, and Himsa. Burgerkill is a dynamic composition of talented musicians who have all individually featured as prominent influences within Indonesia's underground metal milieu. With Vicky on vocals, Ebenz on guitar, Ramdan on bass, Andris on drums, and Agung on guitar, the result is a lethal combination of musicians who, as if by instinct, produce a most rancorous sound that leaves you feeling downright butchered. Self produced and Burgerkill's most recent album, 'Beyond Coma and Despair' has been tagged by Rolling Stone Magazine as 'One of the best albums of the year' (2006). The sound exhibited on this album is brutal and violent. All throughout this turbulent, provocative album it is as if Burgerkill grab you by the head and smash you to the wall, yet you find yourself still smiling and thoroughly enjoying this merciless invasion of noise. It is masochistic to the core. There is nothing mediocre about the album Burgerkill attack each song with great ferocity. 'Beyond Coma and Despair' is a unique album in that each song churns out a colossal sound, delivering to the listener an unrelenting assault on the eardrums. 'Beyond Coma and Despair' more than proves with absolute certainty that Burgerkill will reign eternal in the metal world.
  • Members

    Vicky - Vocals Ebenz - Guitars Agung - Guitars Andris - Drums Ramdan - Bass
  • Influences

    Heavy fuckin' metal in many forms and styles!
  • Sounds Like

    BURGERKILL MANAGEMENT: Jl. Gumuruh No. 171, Bandung 40275 West Java, Indonesia Phone & Fax: +62 22 7309730 Email: info@burgerkillofficial.com Booking & Contact: Jemi Sunardi Phone: +62 818435045 / +6222 70796665 Email: apihbkhc@yahoo.com Australian Booking: Xenophobic Entertainment 7 Amy Court, Munster Western Australia, 6166 Phone : 0405 438 302 Email: xenophobic_distributions@hotmail.com

  Ini merupakan sebuah cerita pendek dari 12 tahun perjalanan karir bermusik dari sebuah band super keras yang telah menjadi fenomena di populasi musik keras khususnya di Indonesia. Sebuah band yang namanya diambil dari selewengan sebuah nama restaurant fast food asal Amerika, ya mereka adalah Burgerkill band asal origin Ujungberung, tempat orisinil tumbuh dan berkembangnya komunitas Death Metal / Grindcore di daerah timur kota Bandung. Band lulusan scene Uber ( nama keren Ujungberung ) selalu dilengkapi gaya Stenografi Tribal dan musik agresif yang super cepat, Jasad, Forgotten, Disinfected, dan Infamy to name a few.

Burgerkill berdiri pada bulan Mei 1995 berawal dari Eben, scenester dari Jakarta yang pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Dari sekolah itulah Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Band ini memulai karirnya sebagai sebuah side project yang ga punya juntrungan, just a bunch of metal kids jamming their axe-hard sambil menunggu band orisinilnya dapat panggilan manggung. Tapi tidak buat Eben, dia merasa bahwa band ini adalah hidupnya dan berusaha berfikir keras agar Burgerkill dapat diakui di komunitasnya. Ketika itu mereka lebih banyak mendapat job manggung di Jakarta melalui koneksi Hardcore friends Eben, dari situlah antusiasme masyarakat underground terhadap Burgerkill dimulai dan fenomena musik keras tanpa sadar telah lahir di Indonesia.

Walhasil line-up awal band ini pun tidak berjalan mulus, sederet nama musisi underground pernah masuk jajaran member Burgerkill sampai akhirnya tiba di line-up solid saat ini. Ketika dimulai tahun 1995 mereka hanya berpikir untuk manggung, pulang, latihan, manggung lagi dst. Tidak ada yang lain di benak mereka, tapi semuanya berubah ketika mereka berhasil merilis single pertamanya lewat underground phenomenon Richard Mutter yang merilis kompilasi cd band-band Bandung pada awal 1997. Nama lain seperti Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell juga bercokol di kompilasi yang berjudul “Masaindahbangetsekalipisan” tersebut. Memang masa itu masa indah musik underground. Everything is new and new things stoked people! Tidak tanggung lagu Revolt! dari Burgerkill menjadi nomor pembuka di album yang terjual 1000 keping dalam waktu singkat ini.

Setelah mengenal nikmatnya menggarap rekaman, anak anak ini tidak pernah merasa ingin berhenti, dan pada akhir tahun 1997 mereka kembali ikut serta dalam kompilasi “Breathless” dengan menyertakan lagu “Offered Sucks” didalamnya. Awal tahun 1998 perjalanan mereka berlanjut dengan rilisan single Blank Proudness, pada kompilasi band-band Grindcore Ujungberung berjudul “Independent Rebel”. Yang ketika itu dirilis oleh semua major label dengan distribusi luas di Indonesia dan juga di Malaysia. Setelah itu nama Burgerkill semakin banyak menghias concert flyers di seputar komunitas musik underground. The Antics went higher, semakin banyak fans berat menunggu kehadiran mereka diatas panggung. Burgerkill sang Hardcore Begundal!

ebenburgerkillDisekitar awal tahun 1999, mereka mendapat tawaran dari perusahaan rekaman independent Malaysia, Anak Liar Records yang berakhir dengan deal merilis album Three Ways Split bersama dengan band Infireal (Malaysia) dan Watch It Fall (Perancis). Hubungan dengan network underground di Malaysia dan Singapura berlanjut terus hingga sekarang. Burgerkill menjadi langganan cover zine independent di negara-negara tersebut dan berimbas dengan terus bertambahnya fans mereka dari negeri Jiran. Di tahun 2000, akhirnya Burgerkill berhasil merilis album perdana mereka dengan title “Dua Sisi” dan 5000 kaset yang di cetak oleh label indie asal Bandung, Riotic Records ludes habis dilahap penggemar fanatik yang sudah tidak sabar menunggu sejak lama. Di tahun yang sama, band ini juga merilis single “Everlasting Hope Never Ending Pain” lewat kompilasi “Ticket To Ride”, sebuah album yang benefitnya disumbangkan untuk pembangunan sebuah skatepark di kota Bandung.

Single terakhir menjadi sebuah jembatan ke era baru Burgerkill, dimana masa awal mereka lagu-lagu tercipta hasil dari pengaruh band-band Oldschool Hardcore, Name it: Minor Threat, 7 Seconds, Gorilla Biscuits, Youth of Today, Sick of it All, Insted, Etc. Seiring dengan waktu, mereka mulai untuk membuka pengaruh lain. Masuklah pengaruh dari band band Modern Metal dan Newschool Hardcore dengan beat yang lebih cepat dan lebih agresif, selain itu juga riff-riff powerchord yang enerjik menjadi bagian kental pada lagu-lagu Burgerkill serta dilengkapi oleh fill-in gitar yang lebih menarik. Anak-anak ini memang tidak pernah puas dengan apa yang mereka hasilkan, mereka selalu ingin berbuat lebih dengan terus membuka diri pada pengaruh baru. Hampir semua format musik keras dilahap dan di interprestasikan kedalam lagu, demikianlah Burgerkill berkembang menjadi semakin terasah dan dewasa. Lagu demi lagu mereka kumpulkan untuk menjadi sebuah materi lengkap rilisan album kedua.

Beberapa Mainstream Achievement pun sempat mereka rasakan, salah satunya menjadi nominator Band Independent Terbaik ala majalah NewsMusik di tahun 2000. Awal tahun 2001 pun mereka berhasil melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan produk sport apparel asal Amerika: PUMA yang selama 1 tahun mensupport setiap kali Burgerkill melakukan pementasan. Dan sejak Oktober 2002 sebuah produk clothing asal Australia: INSIGHT juga mensupport dalam setiap penampilan mereka.

Pertengahan Juni 2003, Burgerkill menjadi band Hardcore pertama di Indonesia yang menandatangani kontrak sebanyak 6 album dengan salah satu major label terbesar di negeri ini, Sony Music Entertainment Indonesia. Dan setelah itu akhir tahun 2003, Burgerkill berhasil merilis album kedua mereka dengan title “Berkarat”. Lagu-lagu pada album ini jauh lebih progressif dan penuh dengan teknik yang lebih terasah dibandingkan album sebelumnya. Hampir tidak ada lagi nuansa straight forward dan moshpart sederhana ala band standard Hardcore yang tercermin dari single-single awal mereka. Pada sector vocal dengan tetap mengedepankan nuansa depresif dan kelam, karakter vocal Ivan sang vokalis Bengal lebih berani dimunculkan dengan penulisan bahasa pertiwi dan artikulasi kata yang lebih jelas. Dan di sector musik pun, Toto, Eben, Andris dan gitaris baru mereka Agung semakin berani menjelajahi daerah-daerah baru yang sebelumnya tidak pernah dijajaki kelompok musik keras manapun di Indonesia.

Sebuah kejutan hadir pada pertengahan tahun 2004, lewat album “Berkarat” Burgerkill masuk kedalam salahsatu nominasi dalam salah satu event Achievement musik terbesar di Indonesia “Ami Awards”. Dan secara mengejutkan mereka berhasil menyabet award tahunan tersebut untuk kategori “Best Metal Production”. Sebuah prestasi yang mungkin tidak pernah terlintas di benak mereka, dan bagi mereka hal tersebut merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus mereka buktikan melalui karya-karya mereka selanjutnya.

Di awal tahun 2005 di tengah kesibukan mereka mempersiapkan materi untuk album ketiga, Toto memutuskan untuk meninggalkan band yang telah selama 9 tahun dia bangun bersama. Namun kejadian ini tidak membuat anak-anak Burgerkill putus semangat, mereka kembali merombak formasinya dengan memindahkan Andris dari posisi Bass ke posisi Drums dan terus melanjutkan proses penulisan lagu dengan menggunakan additional bass player. Sejalan dengan selesainya penggarapan materi album ketiga, tepatnya November 2005, Burgerkill memutuskan kontrak kerjasama dengan Sony Music Entertainment Indonesia dikarenakan tidak adanya kesepakatan dalam pengerjaan proyek album ketiga. So guys…these kids always have a great spirit to keep blowing their power, dan akhirnya mereka sepakat untuk tetap merilis album ke-3 “Beyond Coma And Despair” di bawah label mereka sendiri Revolt! Records di pertengahan Agustus 2006. Album ketiga yang memiliki arti sangat dalam bagi semua personil Burgerkill baik secara sound, struktur, dan format musik yang mereka suguhkan sangat berbeda dengan dua album sebelumnya. Materi yang lebih berat, tegas, teknikal, dan berani mereka suguhkan dengan maksimal disetiap track-nya.

Namun tak ada gading yang tak patah, sebuah musibah terbesar dalam perjalanan karir mereka pun tak terelakan, Ivan sang vokalis akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya ditengah-tengah proses peluncuran album baru mereka di akhir Juli 2006. Peradangan pada otaknya telah merenggut nyawa seorang ikon komunitas musik keras di Indonesia. Tanpa disadari semua penulisan lirik Ivan pada album ini seolah-olah mengindikasikan kondisi Ivan saat itu, dilengkapi alur cerita personal dan depresif yang terselubung sebagai tanda perjalanan akhir dari kehidupannya. “Beyond Coma And Despair” sebuah album persembahan terakhir bagi Ivan Scumbag yang selama ini telah menjadi seorang teman, sahabat, saudara yang penuh talenta dan dedikasi dengan disertai karakter karya yang mengagumkan. Burgerkill pun berduka, namun mereka tetap yakin untuk terus melanjutkan perjalanan karir bermusik yang sudah lebih dari 1 dekade mereka jalani, dan sudah tentu dengan menghadirkan seorang vokalis baru dalam tubuh mereka saat ini. Akhirnya setelah melewati proses Audisi Vokal, mereka menemukan Vicki sebagai Frontman baru untuk tahap berikutnya dalam perjalanan karir mereka.

Dan pada awal Januari 2007 mereka telah sukses menggelar serangkaian tour di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Bali dalam rangka mempromosikan album baru mereka. Target penjualan tiket di setiap kota yang didatangi selalu mampu mereka tembus, dan juga ludesnya penjualan tiket di beberapa kota menandakan besarnya antusiasme masyarakat musik cadas di Indonesia terhadap penampilan Burgerkill. A written story just wouldn’t enough, tunggu kejutan dan dengarkan album baru mereka, tonton konsernya dan rasakan sensai musik keras yang tak akan kamu lupakan. berita yang telah kami terima bahwa mereka sempat pada bulan Maret 2009 Tour diAustralia dengan tajuk “The Invasion Of Noise” Western Australian Tour 2009. dan mereka juga akan segera melaksanakan Tur dibulan Mei 2009 ke Malaysia “Malaysian Hardcore Mosh Wanted Part II

JURNAL KARAT # 47, 17 DESEMBER 2010, KARAT WITH BURGERKILL & BLAST N BEAT DI BANDUNG DRUMS DAY DAN KOMITMEN REKAMAN LAGI!!

Oleh Jon 666

11 Des, Sabtu, Manunggaling Kawula Gusti dan Perdebatan mengenai Nyunda

Karat tak bisa manggung di acara ini karena Mang Man harus manggung di Makassar dan Palangkaraya bersama Jasad. Untuk itu Kimung lalu berinisiatif membuat band baru yang sekiranya bisa menggantikan Karat. Band yang ia buat adalah Paperback Reader, salah satu format music karinding-celempungan yang membawakan lagu-lagu The Beatles. Paperback terinspirasi dari sosok Zemo yang begitu mencintai The Beatles dan meyukai singalong lagu-lagunya The Beatles. Namun bukan itu yang utama. Kimung ngotot membentuk Paperback agar anak-anak Karat, terutama yang inti mengaransemen lagu bisa berlatih nuansa lain dalam menggarap lagu dan para back up vocal bisa berlatih bernyanyi dalam nuansa yang harmonis. Kimung kira band paling harmonis membangun suara satu suara dua adalah The Beatles dan Nirvana. Pilihan Kimung kemudian jatuh ke membawakan lagu-lagu The Beatles. Ia meminta tolong David untuk bermain gitar di proyekan ini.

Saya hanya akan menambahkan beberapa hal yang ingin Kimung ungkapkan secara personal mengenai pertanyaan pertama yang sedikit menyengat dari seorang teteh-teteh ceesnya Akay, “Kenapa harus membawa-bawa beberapa keyakinan bahkan agama besar dalam bermain music karinding? Kenapa tidak membedah sisi kasundaan saja demi vitalitas bersama?”

Ini pertanyaan yang melelahkan untuk dijawab. Bukan karena jawabannya sulit, tapi karena pertanyaan ini sudah begitu sering dilontarkan dan diskusi-diskusi mengenai kasundaan sudah begitu sering digelar oleh anak-anak sehingga pertanyaan seperti ini terasa begitu membosankan. Namun ini adalah forum lain dan pertanyaan harus dijawab.

Manunggaling kawula gusti adalah ajaran yang dibuat oleh Syekh Siti Jenar yangnotabene adalah seorang beragama Islam dan hidup dalam tradisi Jawa yang kental. Otomatis studi mengenai “Manunggaling Kawula Gusti” jelas harus mempelajari dua ajaran tersebut : Kejawen dan Islam. Terkecuali jika Jenar berasal dari Sunda, maka diskusi mengenai Manunggaing Kawula Gusti pasti akan bersumber dari Kasundaan. “Bisa saja saya belokkan ke diskusi kasndaan, namun tak adil sepertinya bagi sejarah ajaran Manunggalking Kawula Gusti yang kemduian seakan-akan harus disundakan sementara inti ajaran Kejawennya sendiri terupakan begitu saja. Saya kira banyak nara sumber yang lebih kompeten membahas ajaran sinergi dengan tuhan ini dalam konsep-konsep kasundaan. Saya di sini hanya memerikan kilasan sejarah yang melatari lahirnya ajaran ini.” demikian dengus Kimung dengan lelah.



Mengapa Karmila harus mengeksplorasi ajaran ‘Manungaling Kawula Gusti’ sebagai lirik mereka? Bukankah masih ada konsep kasundaa lainnya yang bisa diangkat?

“Duh ini juga pertanyaan lain yang tak kalah konyol untuk dijawab. Saya kira saya akan snagat merasa konyol jika saya ikut menjawab pertanyaan ini. Namun biarlah saya jawa juga. Saya kira siapapun di dunia ini bebas untuk menyukai apapun, termasuk dalam menyelami tema-tema yang sifatnya ideologis seperti ajaran manungaling. Dan untuk menyukai secara murni tak harus ada alas an. Ini seperti menjawab pertanyaan konyol dari seorang gadis, ‘kenapa sih kamu mencintaiku?’ Cinta ya cinta! Tak ada alasan utnuk mencinta. Jikapun kita kemudian dipaksa untuk beralasan, tentunya kemurnian cnta akan ternoda dengan penjelasan. Cinta tak butuh penjelasan. Pun apa yang kita sukai. Jika kita menyukai manunggaling kawula gusti, tak peduli berasal dari mana konsep itu berasal, kita pasti akan terus mencintainya. Lagi pula manunggaling kawula gusti adalah ajaran yang universal, tak lekang oleh kedaerahan sebatas Jawa atau Kejawen saja, semua peradaban di dunia memiliki satu konsep sama dengan manunggaling.

Tak perlulah saya sebutkan contoh-contohnya, brows saja di google. Adalah hal yang konyol jika awalnya kita menaruh hormat pada seseorang karena kita mencintai pencapaian-pencapaiannya, lalu karena belakangan kita tahu ia orang Jawa atau Batak atau Yahudi atau Negro, rasa hormat kita tiba-tiba buyar. Hormat adalah hormat. Tak mengenal batasan ras, suku bangsa, dan agama. Jika saya seakan memajukan ras tertentu, agama tertemu, suku bangsa tertentu, karena ini memang relevan banget dengan tema yang sama bawakan : manungaling kawula gusti, asal Kejawen dan diadopsi Islam oleh Jenar.

Kimung lalu menambahkan, “Lagi pula degan kebebasa itu kita boleh dong mengeksplorasi tema apapun di luar budaya kita. Hal ini akan mengasah kita untuk saling asah – saling asih – saling asuh karena silihwangian bukan cuma dengan saudara sedarah namun juga saudara yang liyan. Bukankah setiap peradaban memiliki konsep surge yang sama? Yag jika kemudian surge-surga itu bersatu kita bisa hidup dengan harmoinis di dalamnya. Atau misalkan jika memang tak ada surge seperti dalam konsep reinkarnasi; bagaimana jika kita orang Sunda ketika kita mati dan lalu dilahirkan kembali menjadi orang Jawa misanya, atau orang Nepal, atau orang Eropa? Dan setelah konsep ini diyakini, sudah relevankan kengototan kita akan kemurnian darah dan ras?”

Arrgghh sudah ahh saya ga akan meneruskan cuplikan obrolan saya degan Kimung. Panjang boooo hahahaha… Lagi pula saya tutup saja dengan penggalan kata-kata Kimung diakhir obrolannya, “Kalo kita bisa melihat degan seksama, Karmila tak harus menggadang tema Sunda dalam liriknya. Kita lihat saja penampilan mereka sudah memakai iket. Lirik lagu Manunggaling Kawula Gusti juga Sunda walau bertema Kejawen. Ngobrol sehari-hari berbahasa Sunda. Tingkah laku dan gaya sudah nyunda banget. Justru dega kemduian menyebrang ke ranah emikiran lain di luarSunda, itu namanyarebitalisasi! Dan ini menjadi revitalisasi yang membangun jika kita melihat Karmila tetap saja nyunda, tak lantas jadi Kejawen,” tandasnya.

Kimung lalu membahas Panceg Dina Galur sebagai imbangan Papat Kalima Pancer yang menjadi inti ajaran Manunggaling Kawula Gusti, ketika ia menjawab pertanyaan penuh retorika dari Miing yang menyinggung masalah masa depan generasi dan masyarakat. Jawaban ini juga sekaligus memperjelas inti yang kebih sederhana mengenai apa yang harus kita lakukan untuk tidak terbawa arus penghancuran alam dan kehidupan oleh manusia dewasa ini.

Well, well, selamat kepada Karmila yang kini sudah meiliki video klip “Manunggaling Kawula GUsti”! Klipnya keren banget mangs!! Full artwork from hell!! Mantaps!! Hajar terus jalanan!!!

12 Des, Minggu

Sesi latihan terakhir bersama Jene dan Papay.

13 Des, Senin, Cek tata suara Bandung Drums Day

Siang yang cerah. Semua yang terlibat dalam produksi Abah Burgerkill di Bandung Drums Day sudah berkumpul di Studio Burgerkill. Awalnya kru Abah akan cek tata suara jam Sembilan pagi, sesuai dengan jadwal yang telah diberikan panitia. Namun tadi malam jadwal dirobah oleh panitia, jadwal Abah soundcheck Abah jadi jam lima sore. Dan kini mereka sedang mempersiapkan berbagai peralatan yangakan dipakai untuk keperluan gig. Abah, Jene, Papay, Sony, Abang tampak asyik mempersiapkan peranti drum mereka; ada yang mengelapi simbal agar mengkilap dan tampak segar ketika dimainkan nanti, ada yang menyetel skin drum agar pas dengan standar pukulan para drummer ini, ada yang membereskan stand drum, dll. Yayat dan Inu lain lagi. Mereka asyik memepersiapkan berbagai peralatan tata suara yang bisa mendukung kelancaran permainan drum mereka. Hendra dan Jawis asyik melihat kesibukan kru. Sebelumnya mereka sudah mengangkut celempung ke taman Studio BUrgerkill untuk dijemur agar kualitas suaranya kembali mantaps. Bada ashar, semua alat sudah diangkut ke dalam mobil Jene, Papay, dan mobil boks Burgerkill. semua berangkat ke Sabuga untukcek tata suara.

Tiba di sana Andri Rudal eks-Puppen, Rifky Forgotten, Sani Jeruji sedang soundcheck. Tampak beberapa kawan lama hadir pula mengikuti soundcheck, termasuk Gebeg yang sedari awal aktif membantu para penggagas acara ini : Shandy Pas Band, Pepeng ST 12, dan Reza Peterpan. Berbagai obrolan santai bergulir dari kerumunan satu ke kerumunan lain sambil menunggu proses soundcheck, sementara kru degan sigap segera mengeset drum agar mudah dan siap sedia diangkut ke atas panggung. Setelah soundcheck tiga drummer muda—salah satunya Akbar drummer cilik beserta dua drummer perempuan—tibalah giliran tim Abah untuk melakukan soundcheck.

Drum Abah, Jene, Papay, dan karinding-celempung Karat segera diset sesuai dengan tata suara yang disediakan panitia. Total channel yangdigunakan adalah tiga puluh sesuai dengan jatah yang bisa broadcast. Pun gitar dan bass juga ikut disiapkan karena Eben, dan Ramdhan memang akan ikut soundcheck mengiringi tim Abah. Agung tidak bisa hadir sore itu dan posisinya digantikan dulu oleh Bow. Dengan cekatan kru mempersiapkan segalanya. Di belakang peranti miksing monitor panggung, Inu sigap mengeset tata suara, sementara Yayat berada di belakang miksing luar. Channel per channel di persiapkan, mulai dari setiap channel drum Abah, Jene, Papay, hingga karinding dan celempung. Ketika semua sudah siap cek tata suara diawali mengetes monitor dan tata suara drum Abah saja bersama iringan Burgerkill. Beres satu putaran Darah HItam Kebencian, giliran semua bermain. Setelah aba-aba, bermainlah semua menghajar peranti masing-masing saat itu.

Ada sedikit masalah ketika celempung dan karinding masuk : monitor tata suara karinding dan celempung tak terdengar oleh ketiga drummer sehingga mereka main meraba-raba. Dalam evaluasi setelah cek tata suara Yayat kemduian berinisiatif akan membawa mik kondensor khusus untuk mendukung tata suara karinding dan celempung. Selain itu semua sudah aman lapan anam!

Cek tata suara selesai jam Sembilan malam dan semua segera pulang untuk mempersiapkan gig esok hari. Hellfukkinyeahhh!!!

14 Des, Slasa Criauww, Bandung Drums Day

Esoknya, sementara Abah-Jene-Papay berlatih di studio di Karawitan, tim Karat, Kimung-Hendra-Jawis memutuskan untuk berkumpul di Commonroom dan berlatih di sana. Sejak jam empat sore Kimung dan Hendra sudah terus menerus menghajar renteng dan anak memainkan instrument yang akan digeber habis di tengah solo drum Abah. Sebetulnya pirigan yang akan dimainkan adalah pirigan biasa yang lazim dimainkan dalam lagu “Maap Kami Tidak Tertarik pada Politik Kekuasaan” dan “Yaro Tahes”. Namun demikian, suasana excited berlebihan dan pergantian suara celempung indung Kimung ke renteng, ditambah Karat memang sudah begitu lama tidak latihan bareng, membuat beberapa pirigan kembali lost. Namun demikian sedikit demi sedikit Kimung dan Hendra kebali menemukan rohnya dalam memainkan pirigan-pirigan tersebut. Mereka juga menghapalkan lirik yang akan diteriakan nanti di tengah-tengah lagu : HIDUP DRUMMER INDONESDIA – TERUS BERKARYA – DO THE GREAT TO THE BEAT – HIT THE SKIN TILL IT BLEED! Hari menjelang sore ketika akhirnya semua yang hadir bersiap untuk berangkat. Kimung, Hendra, Jawis, Viki, dan Osiie beragkat bersama ke Sabuga.

Pukul lima mereka sudah tiba di Sabuga dan meihat begitu besar gairah acara ini. Ratusan anak muda duduk-duduk di depan Sabuga menikmati suasana sore itu yang penuh dengan drum. Rombongan lantas menyebrangi gerbang Sabuga dan memutuskan untuk masuk ke dalam lewat Jendela Ide sambil sowan ke Mang Adar, Teh Intan, dan Mang Jae yang saat itu memang sedang siap siaga di Jendela Ide. Awalnya mereka akan menghabskan sore itu dulu di Taman Atap Sabuga yang indah, nanmun karena Bow sudah mencari tanda semua harus mulai bersiap-siap maka urung dan semua kembali turun menuju ruang artis di mana Abah dan yang lain sudah bersiap-siap.

Tim Abah dijadwalkan manggung jam tujuh malam, setelah penampilan Rifky Forgotten, Andri Rudal, Sani Jeruji. Abah, Jene, Papay, Kimung, Hendra, dan Jawis sempat melakukan pemanasan dan brifing stik drum to floor. Yayat yang sdari tadi mempersiapkan peranti miksing menyempatkan menemui Kimung untuk memberikan mikrofon dua buah kondensor Shure khusus untuk renteng dan celempung Hendra, seraya berpesan agar nanti mikrofon panggung diganti dengan mikrofon yang ia bekal. Ketika akhirnya Rifky dkk manggung dan mereka sepakat untuk melihat dulu. Kimung sendiri sempat bertemu Tiara, putrinya, yang juga sempat main bareng salah satu drummer di sesi klinik drum. Hingga akhirnya tim Rifky usai, giliran tim Abah yang bersiap-siap.

Di panggung, Shandy dan Pepeng sudah kembali tampil menyampaikan beberapa atah kata berkaitan degan terselenggaranya Bandung Drums Day ini. Degan semangat ereka bercerita bahwa begitu banyak talenta-talenta drummer brilyan yang muncul dari Kota Bandung dan acara ini bertujuan untuk menajlin silaturahmi di antara semua. Setelah beberapa patah kata dari para penyelenggara, acara kemudian dilanjut dengan penyerahan penghargaan kepada drummer senior Om Ben yang kini berusia 71 tahun, namun masih terus aktif menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam mengembangkan teknik drum serta komunitas drummer di Kota Bandung. Sementara itu persiapan BUrgerkill di panggung sudah usai hingga ketika akhirnya Om Bens yang didaulat untuk memainkan brass stick drumming usai dan MC memanggil Burgerkill, semua sudah siap di posisi.

Tanpa banyak bicara, Abah dan tim langsung menghajar panggng dengan drumming “Darah Hitam Kebencian” sementara dengan konstan Eben, Agung, dan Ramdhan berada di belakang peranti drum mengiringi deruan drumming. Abah, Jene, dan Papay benar-benar mengeksplorasi kemampuan drum mereka dalam bermain bareng maupun bermain sendiri-sendiri, juga berbagi part permainan drum masing-masing di dalam lagu. Hingga akhirnya, tibalah saatnya untuk solo drum.

Abah memulai solo lalu dijawab oleh Papay dengan drum perkusinya. Jene langsung menyambut permainan drum sejenak Ppay usai dan segera disambung oleh drumming metal gaya Abah. Papay kembali menyambut permainan Abah dengan drumming yang semakin eksploratif dan bahaya, hingg akhirnya ditutup sementara oleh Jene di sesi akhir pertama dengan permianan simbalnya yang menawan.dan kini tibalah saatnya Karat untuk unjuk gigi.

Renteng segera saja ditabuh Kimung begitu simbal Jene usai. Hendra segera mengikuti ngigelan renteng di ketika bar pertama usai berbarengan dengan masuknya karinding Jawis yang seketika itu juga langsung memberikan nuansa lain. Ketika akhirnya intro “Maap Kami Tidak Tertarik Pada POlitik Kekuasaan Usai” semua berteriak lirik lagu yang dibuat Kimung : HIDUP DRUMMER INDONESDIA – TERUS BERKARYA – DO THE GREAT TO THE BEAT – HIT THE SKIN TILL IT BLEED! Sayang Kimung agak kepeleset sedikit di sesi teriak bersama ini. Namun demikian ini langsung dibayar kontan dengan beat tradisional yang kemudian dibangun Karat. Sementara itu Abah berdiri di belakang peranti drumnya siap-siap untuk ngengklak. Dan benar saja, ketika akhirnya “Yaro Tahes” dimainkan diserta segak-sengak Karat dan akhirnya audiens yang hadir, Abah terihat asik engklak mengikuti irama di belakng peranti drumnya hehehe asik banget baaahh hahahaha… Eben berbisik kepada Agung di belakang, “Gelo da drummer aing mah hehehe…”

Pirigan “Yaro Tahes” mengakhiri nuansa tradisonal yang dibangun bersama tim Abah dalam kesempatan itu dan beat sekarang kembali ke drumming. Setelah berleha sejenak bersama Karat, Andris, Jene, dan Ppaay kembali ke solo drum mereka—kini ke solo intensitas membangun ritmik beat metal. Tak ada kata terucap untuk mengomentari skill da intensitas yang dipamerkan ketiga drummer ini selain FUUKKK HELLFUKKINYEAAAHHH!!! YE GUYS KIKKFUKKINASS!!!

Solo drum Abah megakhiri sesi solo tiga drummer dan menjadi jembatan menuju masuk kembali ke ritem gitar “Darah HItam Kebencian”. Semua kembali berbaur, termasuk karinding dan celempung Karat, sebelum kahirnya Burgerkill, Blast n Beat, dan Karat mengakhiri penampilan mereka, berdiri memberikan penghornatan pada audiens sambil mengankat tangan dengan symbol devils horn, dan belalu ke belakang panging diiringi tepuk tangan berkeanjangan dari audiens.

Di belakang panggung semua masih berbagi kegembiraan karena semua bermain dengan excited dan baik mala mini, termasuk Kimung yang cengengesan karena sedikit kecaletot tadi. Semua berbagi energy dan semangat. Yayat yang datang belakangan bahkan bercerita, ia mendengar bos-bos drum di belakangnya—Yayat di belaang miksing luar—terus menerus memuji Abah yang dengan snagat baik mampu mengkombinasikan drumming metal dengan pirigan-pirigan tradisional dalam porsi yang pas dan sangat menghibur. Mantaps! Rahayu semua dan semoga ini membawa berkah kepada semua yang terlibat di dalamnya.

Setelah usai Man dan Okid datang ke belakang panggung. Andra, adik Karat, datang bersama mereka dan kami semua saling melepas rindu karena sudah begitu lama tak bertemu degan adik kecil ini. Setelah menemui BUnda dan sungkem kepadanya di jajara penonton, Karat kemduian kembali menikmati atmosfer pertunjukan para drummer malam itu.

Uhhh ini adalah salah satu pengalaman tak terlupakan yang pernah dialami Karat. Semoga kolaborasi-kolaborasi selanjutnya semakin membangun aura positif bagi Karat.

15 Des, Rabu

Kimung, Hendra, dan Jimbot ngobrol mengenai fokus Karat dan program rekaman. Kimung menegaskan setelah gigs kemarin ia semakin menyadari jika kualitas tata suara yang dihasilkan dari sesi rekaman bersama Andri Extend di Kareumbi sangat jauh dari standar detil yang ia inginkan, terutama suara tepak dan goong yang tak bisa dieksplorasi dengan maksimal. Ia mengutarakan ingin melakukan take ulang da ingin pindah studio. Banyak hal yang melatari keinginannya ini. Salah satunya adalah brilyannya tata suara yang dibangun Inu dan Yayat ketika panggung kemarin. Sampai hari ini ia terus berkata jika tepak dan detil celempungan Hendra serta riuhnya karinding Jawis begitu terasa dan nempel di telinganya, jauh dengan kualitas rekaman yang ia dengar di Kareumbi—walau diangun dalam nuansa yang sama : live.

16 Des, Kamis

Hendra dan Jawis berkumpul di rumah Kimung.

17 Des, Jumat Kramits, Hayo Rekaman Lagi!!! Dan Kunjungan Iwoeng Djadi dari Batujajar

Malam ini sangat istimewa karena pasukan Karinding Iwoeng Djadi berkunjung ke Commonroom untuk bersilaturahmi. Lebih dari sepuluh kawan-kawan dari batujajar hadir mala mini menyemarakkan suasana. Welcome friends, mari kita tabeuh barengs!!!

Agenda malam ini adalah membahas kemungkinan Karat untuk rekaman lagi dari awal. Hal ini awalnya tercetus dari pemikiran Kimung. Ketika di bandung Drums Day kemarin ia begitu terkesan dengan tata suara yang dibangun oleh duet maut Yayat – Inu sehingga suara karinding dan celempung yang ia dengar di panggung terus terngiang-ngiang di telinga. Dan yang terpenting adalah bahwa suara waditra yang dimainkan Karat begitu hidup, begitu penuh dengan jiwa-jiwa yang semangat, begitu mengisi sekalgus memberikan nuansa. Begitu terus terngiang-ngiang betapa mantap tata suara yang dihasilkan kemarin. Dan ketika ia pulang lalu mendengarkan rekaman Karat di Kareumbi, tata suara yang dihasilkan jauh sekali dengan yang terngiang-ngiang di telinganya. Untuk itulah Kimung segera saja mengutarakan keinginannya kepada Karat dan malam ini hal itu akan dibahas, serta hal-hal lain yang berkaitan juga dengan dinamika Karat.

Okid bereaksi pertama atas keinginan Kimung. Ia melihat hasil rekaman di Kareumbi sudah jadi dan ini harus dipertanggungjawabkan kepada public dalam bentuk rilisan. Bagus jelek ini adalah Karat, Okid bilang. Lagipula akan menjadi mubazir jika hasil rekaman ini dibiarkan begitu saja. Ia ingin menuntaskan penggarapan lagu-lagu di Kareumbi dan merilisnya sebagai mini album.

Namun Kimung berkeras. Kualitas rekaman di sesi itu menurutnya jelek. Sebenarnya untuk ukuran orang awam, bisa saja hasil rekaman itu dipolas-poles oleh kemajuan teknologi hingga bagus dan dirilis. Namun bukan itu intinya. Orang boleh mengelu-elukan rekaman ini kelak dan boleh menyebut rilisan ini bagus karena memang tak ada pembandingnya di manapun. Jika album ini rilis ini akan tercatat sebagai rekaman karindingpertama yang rilis di dunia dan tak ada yang bisa membandingkan karya ini, tak ada yang bialng ini jelek karena tak ada pembandingnya. Namun Kimung menandaskan, “Memang jelema euweuh nu apal, tapi urang apal.”

Sebenarnya, Okid dan Karat yang lain oke-oke saja utuk rekaman lagi. Kendala utama rekaman si Karat adalah masalah dana. Tak adanya uang membuat Karat berpikir beberapa kali untuk melakukannya di studio-studio kecengan Kimung yang memiliki standar tinggi dalam menggarap tata suara.

Sementara itu, kendala utama untuk mengejar standar reverb dalam rekaman yang diinginkan adalah masalah sumber daya manusia. Dan ini juga bukan ada di masalah skill, namun lebih ke masalah attitude. Pa Andri yang menggarap Karat kemarin bukannya tak memiliki skill yang memadai. Ia adalah enginer jempolan, ini patut diakui, dan ini tentu saja patut dihargai. Ia memiliki ketenangan luar biasa dalam merekam, juga memiliki telinga dingin yang kualitasnya sama dengan enginer-enginer Ujungberung lain yang memang super dan di atas rata-rata. Hanya saja pola kerja Pa Andri tidak cocok dengan pola kerja Karat. Dan jika kita ibaratkan menghasilkan sebuah rekaman itu bagaikan menghasilkan anak, bukankah kita harus melakukanya dengan orang yang cocok dengan kita?

Ki Amenk lalu menengahi, “Geus ayeuna mah karantina we heula dua bulan. Latihan tong di Commonroom, urang hajakeun weh latihan di studio ngarah leuwih serius! Sanggeus dua bulan jueng siap kabeh langsung hajar rekaman live ngarah irit!”

Sip, untuk sementara keputusan penengah dari Ki Amenk kembali memanceg semangat Karat untuk berkesplorasi lebih baik dan lebih siap lagi. Semoga. Amiin!

Sesi lalu diteruskan dengan sesi nabeuh. Kebetulan Paperback saat itu memang akan berlatih dan ketika rapat Karat sudah usai mereka pun nabeuh. Lagu-lagu yang kemarin dimainkan kini kembali dilatihankan lagi ditambah beberapa lagu, “Come Together”, “Here Comes the Sun”, “Julia”, dan “Here, There, and Everywhere”. Rencananya kalau Karat tak bisa manggung hari Minggu di nikahan adiknya Kimung, Paperback yang akan maju. Hmmm smoga semua lancar…


Download mp3 copy link di bawah ini

album Dua sisi
http://www.mediafire.com/?kmnx0mnjmma
album berkarat
http://www.mediafire.com/?gxxwycmtmw2
album Beyond Coma And Despair 
http://www.mediafire.com/?zdankymkwdq

No comments:

Post a Comment